SEMANGAT ISLAMI Mewarisi ajaran nabi tapi tetap sesuai zaman, meluruskan tapi tak merusak akidah dan syariah

Jamaah dan Kekuatan Umat


Abu Mas'ud r.a., sahabat Nabi saw, menyampaikan sebuah kisah. Suatu ketika, saat hendak shalat berjamaah, Nabi menyentuh setiap bahu kami sambil bersabda: "Luruskan shafmu, jangan bengkok-bengkok. Shaf yang bengkok akan menyebabkan hatimu terpecah-belah." 
(HR. Muslim).

Hadis di atas mengandung makna bahwa ada hubungan yang erat antara keadaan shaf umat Islam ketika salat berjamaah dengan keadaan hati mereka.

Jika ketidaksempurnaan shaf shalat bisa mengakibatkan hati umat Islam terpecah-belah, tentu akan lebih besar lagi pengaruhnya jika salat jamaah itu sendiri memang tidak ditegakkan oleh umat Islam.

Bahkan Alquran menyatakan bila hati bercerai-berai, kendatipun di luar tampak ada persatuan, itu hanya persatuan semu.

"Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka bercerai-berai," firman Allah swt dalam surat Al-Hasyr: 14.

Dari sejarah Nabi Muhammad saw. diceritakan bahwa sejak salat wajib lima waktu diperintahkan Allah swt, beliau selalu mengerjakannya secara berjamaah. Bahkan dalam keadaan genting sekalipun, seperti perang. Salat jamaah juga bahkan tetap ditegakkan dan dipelihara oleh para sahabat sesudah beliau wafat. 

Berbicara soal perbandingan, maka perbedaan antara salat jamaah dan salat sendirian tak hanya pada pahala. Bahkan solat berjamaah berkaitan dengan dimensi sosial kemasyarakatan. Masyarakat masa kini yang mudah terpecah belah dan mudah diadu domba, barangkali karena masyarakat kita sudah terkotak-kotak. Paradigma "berjamaah" sudah bergeser, tak hanya di masjid, karena berjamaah di rumah, di sekolah, di kantor, dan tempat lainnya telah dianggap pengganti masjid. Na'udzubillah

Tidak ada komentar: